GUDANG POSTING

Showing posts with label Jurnal Dunia Fana. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Dunia Fana. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Little Lessons About Love Ch.2 (end)

Part 4: For That Time, For Now, and Forever

Setelah 3 tahun gue duduk di bangku SMP, akhirnya tahun 2008 gue resmi lulus. Gue dan doi sama-sama keterima di SMAN 03 Palembang lewat jalur PMDK. Gue sendiri sebelumnya sempat ikut tes USM di SMAN (plus) 17 Palembang, tapi gak keterima. Hehehe.. Dasar emang jodoh, lagi-lagi gue 1 sekolah sama doi. Tapi gue yakin pasti nyesel deh gak nerima seorang M. Rafif Anwar yang cool dan kece ini waktu itu *kantong muntah please*.

Kalau dulu gue dan Eyi satu sekolah dan satu kelas di SMP, kali ini walaupun tetap satu SMA tapi kelas kami terpisah mulai dari tahun pertama sampai tahun terakhir. By the way, "Eyi" itu panggilan bekennya doi. Dicetuskan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan dipopulerkan oleh gue sendiri.

Walaupun kami terpisah kelas, tapi lagi-lagi ada saja suatu hal yang bikin gue dan Eyi sama-sama lagi. Kami, entah secara kebetulan atau tidak, berada di satu organisasi yang sama. Sebuah organisasi yang cukup sibuk semasa kami menjabat. Berkat itu, kami jadi sering ketemu walaupun gak satu kelas lagi.

Sekitar awal tahun ke-2, hubungan gue sama Eyi sempat berhenti. Iya, kami putus karena suatu hal. Yah, gue akui itu karena salah gue sih. Well, gue gak mau terlalu ngebahas hal itu tapi yang jelas kami sempat putus dalam waktu yang cukup lama. Sampai sekitar akhir tahun ke-2 gue di SMA itu, kami jadian lagi. Gak mudah memang membangun lagi apa yang sebelumnya sempat rusak. Masih ada konflik di sana-sini, internal dan bahkan eksternal. Yah, secara gue emang famous *hiyaat!* *dziingg!*.

Tapi pada akhirnya semua kembali tentram seperti sediakala. Seorang Rafif dan Leliana kembali lagi dengan pemikiran yang lebih dewasa dan komitmen yang lebih kuat dari sebelumnya. Dengan begitu, kami siap mengahadapi masalah yang lebih sulit lagi kedepannya dan tetap bersama sampai tiba pada waktunya kami siap untuk benar-benar mengikat hubungan ini untuk selamanya.

------------------

Well, itu tadi secuil kisah cinta gue dengan sang pujaan hati. Kalau dicerita tadi kelihatannya kami selalu dekat dan gak pernah berjauhan dalam arti yang sebenarnya, tapi begitu lulus bangku SMA kami memulai sebuah tantangan baru dalam hubungan kami. Sebuah hal yang sebelumnya gak pernah kami lalui. Yap, LDR a.k.a. Long Distance Relationship, hubungan jarak jauh.

Gak mudah memang pada awalnya, apalagi mengingat sebelumnya hampir tidak ada masalah bagi kami untuk sekedar bertemu setiap harinya. Ternyata banyak hal sulit yang harus kami hadapi selama LDR ini. Mulai dari masalah komunikasi sampai masalah kepercayaan. Tapi manusia memang dianugerahi kemampuan untuk menjadi lebih baik seiring dengan berlalunya masalah. Begitu juga dengan kami, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan banyaknya masalah yang terselesaikan, lagi-lagi kami belajar untuk jadi lebih baik. Belajar untuk lebih saling mengerti, belajar untuk lebih percaya, dan belajar untuk lebih menghargai satu sama lain.

Gue percaya, Tuhan pasti punya maksud mulia dengan membuat gue dan Eyi terpisah jarak. Kami sudah cukup lama didekatkan, bahkan sebelum kami saling mengenal. Ingat saat ujian masuk bangku SMP? Peringkat kami bersebelahan, nama kami disandingkan. Saat tahun pertama di SMP, kelas kami juga bersebelahan. Bahkan tahun-tahun berikutnya kami disatukan di satu kelas. Saat masuk SMA, Tuhan bisa saja menjauhkan kami dengan meluluskan gue di SMAN (plus) 17, tapi lagi-lagi Dia ingin kami tetap bersama di SMAN 03. Saat kelas kami terpisah, hati kami digerakkan untuk bergabung di organisasi yang sama agar kami sering bertemu. Saat hubungan kami sempat berakhir, Tuhan satukan kami lagi dengan caraNya yang luar biasa yang membuat hubungan kami semakin kuat. Dan bahkan Tuhan memberikan kami kesempatan untuk bersama selama beberapa bulan dengan menggerakkan hati gue untuk melanjutkan kuliah di Jakarta, sebelum akhirnya Dia memutuskan untuk menjauhkan kami dengan menarik gue kembali ke kota Palembang.

Tuhan bisa saja menempatkan gue di Jakarta, dengan cara membuat hati gue untuk memilih lokasi tes USM di Jakarta daripada di Palembang. Namun lagi-lagi, Dia berkehendak lain. Tapi seperti yang gue bilang tadi, gue yakin ada rencanaNya yang menakjubkan di balik semua ini. Well, semua akan menjadi indah pada waktunya.

Fin

Little Lessons About Love Ch.1

This is special post about my extraordinary love story with my wonderful girl, Leliana Anggraini... .
Dan cerita ini gue persembahkan khusus buat dia sebagai salah satu hadiah di hari ulang tahunnya.

Part 1: First Meet

Satu nama yang menarik perhatian gue saat ngeliat hasil pengumuman seleksi masuk SMPN 19 Palembang untuk yang pertama kali adalah nama yang tepat ada di atas nama seorang M. Rafif Anwar. Satu-satunya nama seorang cewek yang ada di 5 nama teratas di antara 4 nama cowok lainnya, yang saat itu juga buat gue bilang WOW sambil koprol dan rolling in the deep. Yap, di peringkat 3 itu tertulis sebuah nama yang bahkan (pada saat itu) sama sekali gak gue kenal; Leliana Anggraini.

Gue dari SD emang selalu kagum sama cewek yang punya otak encer, tapi sejauh itu hanya sebatas kagum. Gue masih kecil, jangankan untuk pacaran, untuk punya TTM aja gak pernah kepikiran. Tau kan TTM? Waktu gue SD lagi ngetrend banget tu istilah TTM alias Teman Tapi Mesra. Sebelas-dua belas lah sama TTS, Teman Tapi Sesra. Jadi seorang Rafif waktu pertama kali duduk di bangku SMP itu hanya tau dengan yang namanya buku. Sampai...

Pagi itu gue piket kelas, dan kebagian bersih-bersih halaman depan kelas. Waktu lagi asik-asiknya nyapu pakai sapu lidi (kebayang gak nyapu halaman dengan wajah bahagia?), perhatian gue teralihkan ke halaman kelas sebelah kelas gue *tsaah..*. Seorang cewek dengan anggunnya menyapu halaman kelas 7.3 (nah gimana lagi tu nyapu halaman dengan anggun?). Tapi serius, perhatian gue beneran tersita ke cewek itu untuk beberapa menit. Dan itu terulang untuk minggu-minggu kedepannya. Entahlah, gue juga bingung kenapa tapi memang ada sesuatu yang bikin gue betah ngeliat wajah doi. Tapi yang jelas bukan sesuatunya Syahrini karena waktu itu si Jambul Katulistiwa belum eksis.

Dan saat gue tau bahwa nama cewek itu adalah Leliana Anggraini yang sebelumnya sukses bikin gue bilang WOW, keinginan untuk sekedar ngeliat wajah dia itu jadi semakin parah. Gue ingat kelas kami itu tetangga, doi 7.3 gue 7.2, dan doi duduknya itu pas di samping jendela dekat koridor. Jadi kalau mau ke toilet atau kalau kelas gue istirahat duluan, gue pasti ngelewatin tuh kelas 7.3. Ya beberapa kali gue curi-curi pandang lah ke doi. Hehehee... Ya tapi lagi-lagi itu hanya sebatas rasa kagum.

Beberapa minggu sebelum tahun ke-2 gue di SMPN 19 Palembang, gue lagi-lagi dibuat kagum sama cewek yang namanya Leliana ini. Doi juara 1 umum waktu kenaikan kelas! Iya, kali ini juga gue bilang WOW.. tapi gak sambil koprol atau rolling in the deep karena lagi upacara itu cuy.

Dan saat gue duduk di bangku kelas dua, sebuah kenyataan bikin gue berasa abis minum kopi Good Day, nama Leliana Anggraini tercantum di kelas yang sama dengan nama gue berada. Kelas 8.1, sebuah kelas yang sederhana dan meniru gaya hidup manusia purba yang nomaden, tapi gak akan pernah gue lupa sampai kapanpun kecuali gue kena anemia (amnesia!), karena di kelas itu lah seorang M. Rafif Anwar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari seorang Leliana Anggraini.

Part 2: January, 13th 2007

Sebuah kebahagiaan tersendiri memang buat gue bisa ada di kelas yang sama dengan orang yang gue kagumi. Di kelas 8.1 ini gue cukup dekat sama cewek yang (dulu) akrab dipanggil Leli ini. Kebetulan tempat duduk kami juga cukup berdekatan. Jadi kalau cuma sekedar ngobrol akrab, sms-an, ketawa bareng, ledek-ledekkan, lempar-lemparan batu, tonjok-tonjokkan, atau bunuh-membunuh, sudah biasa (serem amat). Dan bohong kalau gue bilang gak ada perasaan suka yang timbul dari kedekatan kami itu.

Siang harinya sebelum malam tahun baru 2007, adalah hari bersejarah buat gue. Untuk pertama kalinya gue tau gimana rasanya nge-date sama cewek yang kita suka. Iya, siang itu adalah first date gue. First dalam hidup gue dan first dengan seorang Leliana Anggraini. Sepatu, kemeja lengan pendek, jaket, topi dan sebuah tas ransel adalah benda-benda yang melekat di tubuh gue waktu itu. Iya, kombinasi yang aneh memang. Sampai sekarang gue masih suka merinding ngebayangin penampilan gue waktu itu.

Tapi walaupun penampilan gue udah kayak manusia tahun 70an yang nyasar dengan mesin waktu, hari itu sangat berkesan buat gue. Untuk pertama kalinya gue tahu gimana rasanya nonton berdua sama orang yang kita suka. Sensasi deg-degannya itu lho.. menggigit! Dan disambung lagi dengan acara malam tahun baru bareng teman-teman gue (dan doi juga ada tentunya), menambah lengkap kebahagiaan gue hari itu. Ibaratnya hari itu gue matipun rasanya gak akan nyesel. Elee.. hahaha... .

13 Januari 2007 sekitar pukul 19.00 WIB gak ada yang spesial buat gue. Kalaupun ada yang beda, paling-paling hanya ada 3 hal: pertama, malam itu hujan cukup deras, kedua malam itu gue lagi ada di salah satu mall di kota Palembang sama teman akrab gue, dan yang ketiga gue merasa lebih ganteng malam itu (fiktif!). Mungkin kalian berpikir bahwa teman gue itu tak lain dan tak bukan adalah cewek yang selama ini gue kagumi, cewek yang namanya sudah sangat sering gue sebut di posting ini; Leli. Tapi maaf, Anda kurang beruntung, gosok terus. Teman gue itu cowok, Endy namanya. Mungkin kalian (lagi-lagi) berpikir bahwa karena suatu hal perasaan ke Leliana Anggraini hilang dan gue mulai suka sesama jenis. Jika itu yang ada dalam pikiran kalian, maka kalian semua benar (lho?!). Hehehe.. Just kidding. Sampai malam itu, rasa kagum dan suka gue ke Leli belum hilang sedikitpun.

Gue dari dulu selalu yakin bahwa hati dan perasaan manusia itu akan lebih "sensitif" saat hujan turun. Coba kalian buktikan sendiri. Saat hujan turun apa yang dirasakan oleh hati kita saat itu, entah itu rasa sayang atau rasa benci, akan menjadi lebih menggigit (?). Mungkin itulah kenapa cukup banyak puisi yang memasukkan kata hujan di dalamnya. Bisa saja pada kenyataannya puisi itu benar-benar dibuat saat hujan turun.

Begitu juga dengan gue malam itu. Entah karena 'dorongan' dari hujan yang turun cukup deras atau memang hati kecil gue yang mengatakan bahwa malam itu lah saat yang tepat, malam itu gue bulatkan tekad dan kuatkan iman dan taqwa untuk menyatakan cinta gue ke seorang cewek yang sudah cukup lama gue kagumi; Leliana Anggraini.

Part 3: Learning Process

Kalau kalian tanya gimana cara gue nembak doi, gak ada yang spesial. Bahkan menurut gue kurang gentleman. Bukan, bukan lewat telepon, tapi lebih hina lagi. Iya, lewat SMS! Saat itu gue masih seorang Rafif yang super pemalu, yang bahkan gak bisa ngeliat mata orang dalam waktu lama. So what?! Itu masa lalu, jadi bukan masalah buat gue.. masalah buat loe?! Hehehe.. Jadi apa gue diterima? Pastinya, kalau gak posting ini gak akan pernah ada.

Banyak hal yang gue alami dalam hubungan gue dengan seorang Leliana selama duduk di bangku SMP ini. Mulai dari coklat valentine yang dimakan semut, kado ulang tahun yang gak jadi surprise karena udah keburu ketahuan, sampai kena tilang bareng gara-gara wajah gue yang terlalu imut. Semua itu bikin perasaan gue yang dulunya sekedar suka. tumbuh jadi perasaan cinta.

Satu setengah tahun gue jadian, banyak hal yang gue pelajari tentang yang namanya cinta dan kasih sayang. Tentang bagaimana berkorban untuk orang yang kita sayang, tentang bagaimana menyayangi tanpa mengekang, tentang bagaimana mengerti dan memahami, dan semua hal yang gue yakin gak akan ada di kurikulum sekolah manapun (ada gitu pelajaran Cinta dan Kasih Sayang Cup Cup Muah Muah?). Sebuah pelajaran kecil tentang cinta.

Tuesday, May 22, 2012

The Truth About My 'Sesuatu'

Manusia itu memang harus berani untuk membuat suatu perubahan. Sebuah kata bijak yg pernah gue baca, "Untuk menjadi luar biasa maka kita harus melakukan hal yg luar biasa pula". Apa yg gue dapat dari kata-kata itu adalah jika kita ingin mendapatkan sesuatu yg lebih dari apa yg kita dapatkan sekarang maka kita juga harus berani melakukan sesuatu yg lebih dari biasanya.

Kurang lebih itulah yg gue alami bulan April lalu.
Sebulan yg lalu gue UAS nih ceritanya. UAS di kampus ini sedikit berbeda dari kampus lain. Lebih terkesan ekstrem, terkesan horor dan mencekam, dan terkesan membahayakan jiwa raga #hiperbola. Di sini kuliahnya pake sistem paket, jadi setiap semester udah ditentuin mata kuliah plus jumlah SKSnya. Dan untuk lanjut ke semester berikutnya ada beberapa persyaratan yg HARUS dipenuhi:

  1. IP minimal harus 2.4 (40% nilai UTS, 40% UAS, 20% Tugas)
  2. Gak boleh ada nilai E
  3. Gak boleh ada dua nilai D di matkul yg 2 SKS
  4. Gak boleh ada nilai D di matkul yg 3 SKS
  5. Gak boleh nyontek, memberi contekan, atau berniat untuk itu, karena kejahatan bukan hanya ada niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah! Waspadalah!
  6. Sehat jasmani rohani, soalnya kalo meninggal gak bakalan lulus
  7. Bisa baca tulis, minimal bisa bikin huruf X sama O untuk nyilang atau ngelingkerin jawaban (kalo soalnya essay siapkan saja pisau tajam untuk bunuh diri)
  8. Buta warna masih diperbolehkan karena kertas soalnya cuma 2 warna (hitam-putih)
  9. Persiapkan gunting atau cutter atau korek api untuk merusak soal kalo ternyata soalnya terlalu mudah dan membuat kita merasa terhina
(lakukan ini jika merasa terhina oleh soal)
 
Nah, dari 9 persyaratan di atas silahkan kalian cerna sendiri mana yg nyata dan mana yg ghaib.
Kembali ke masalah UAS tadi. Jadi ceritanya nih hasil UTS gue sangat tidak memuaskan bung. Malah cenderung ke tingkat siaga 10 #kronis. Jadi kalo nilai UAS gue gak ditingkatkan, kematian sudah dipastikan akan menghampiri #horor. Nah, mengutip dari kata-kata gue di awal tadi bahwa di sini gue harus mau melakukan sesuatu yg lebih dari sebelumnya supaya bisa lulus saat UAS nanti. Dan dalam hal ini gue harus mengubah cara belajar gue.

Jadi untuk alasan itulah gue menutup blog ini untuk sementara. Dan 'sesuatu' yg gue sebutkan di pengumuman penutupan blog ini ya tak lain dan tak bukan nilai UAS itu sendiri.

Nah, soal hasilnya alhamdulillah... puji syukur gue bisa maksimal ngerjain semua soalnya. Dan.... IP ya? Hmm.. kalo masalah IP sih gue sebenernya gak bikin target yg terlalu tinggi. Buat gue IP bisa di atas 3 aja udah syukur. Karena apa? Karena gue ini cool #hoek. Maksudnya karena UTS gue nilainya lumayan hancur belur jadi kalo mau IP 3.75 ke atas itu kayaknya gak mungkin atau impossibru! Kecuali nilai UAS gue 100 semua.

So, berapa IP gue? Jawabnya 3,20. Kecil ya? Iya mungkin emang kecil dan bahkan lebih kecil dari upilnya kurcaci. Tapi untuk bisa 3.20 ini gak mudah lho mengingat nilai UTS gue sudah hopeless. Dan kecil-kecil gini yg penting 'rasanya' bung. Hahaa.. Maksud gue, rasa perjuangannya untuk bisa tembus IP di atas 3 itu lho... jangan mikir yg lain dulu.

Jadi di sini gue bisa betul-betul tau makna dari kata-kata bijak yg pernah gue baca; "Hasil memang penting, tapi perjuangan untuk mencapainya lebih penting dan lebih berharga"

Kesimpulan: Biarpun sekecil upilnya kurcaci, yg penting rasanya bung!

Kapal Api, jelas lebih enak
--au revoir

Tuesday, March 6, 2012

Kisah Cinta Puskesmas Berdarah

Satu lagi cerita yg diangkat dari kisah nyata para personil GBA. Kali ini gue akan bercerita tentang kisah cinta salah satu personil kami John Adrianta Barus a.k.a Jin dari GBA. Kami sebut Jin karena John ini punya kemampuan menghilang dalam kegelapan malam. Saat lampu menyala, maka dia akan terlihat (tidak) jelas. Dan saat lampu mati, John akan terlihat semakin (tidak) jelas.

Kisah ini terjadi tanggal 17 November 2010, sore hari sekitar pukul 16.15 saat kami duduk di kelas 3 SMA. Salah satu personil kami, Akhmad, saat itu masih bertempat tinggal di Kabupaten Sembawa tepatnya Km.24 Palembang. Jarak yg cukup jauh harus ditempuh setiap hari untuk pulang-pergi ke SMA kami yg berada di Km.3,5. Mendaki gunung lewati lembah, jalan membentang indah ke SMANTA, bersama angkot bertualaaang... (irama OST Ninja Hatori)

Jadi apa hubungan kisah cinta John dengan tempat tinggal Akhmad yg ada di Sembawa? Bukan hubungan gelap tentunya. Nah hari itu sekolah kami sedang libur (gue lupa dalam rangka apa) jadi kami semua personil GBA memutuskan untuk bertualang ke Km.24, Sembawa, sembari silaturahmi ke rumah Akhmad.

Perjalanan ditempuh dengan menggunakan 5 helai motor yg ditumpangi oleh 8 onggok daging hidup anggota GBA; gue, Revans, John, Wawan, Fajar, Halima, Ade, plus Si Gendut, eh maksud gue Windy (lihat gambar dari kiri). Sejauh 20,5 kilometer ke arah Barat Daya dengan ketinggian 0,5 meter di atas permukaan aspal (diukur dari knalpot kami) dan dalam waktu kurang dari 2 jam. Sebuah perjalanan yg sangat melelahkan dan sangat cukup membuat pantat kami kram dan ngebul keluar asap hitam.

Begitu landing di Sembawa, tentu tempat pertama yg kami tuju adalah Bandara Soekarno-Hatta (?), maksud gue Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, eh maksud gue rumah Akhmad. Gak ada yg spesial sih yg kami lakukan di sana. Paling cuma foto bareng bersama "Sapi" Sembawa yg gemuk-gemuk, selebihnya biasa saja. Kalian tahu kan arti kata spesial bagi GBA? Spesial itu ketika kita makan mie pake telur sambil bungee jump dari Jembatan Ampera. Jadi kalau tidak ada kegiatan seaneh dan segila itu maka kami anggap biasa-biasa saja.


Nah, kisah cinta pertemuan John dengan pujaan hatinya dimulai saat kami dalam perjalanan pulang. Masih dengan ketinggian 0,5 meter di atas permukaan aspal karena gak mungkin knalpot kami geser ke atas atau ke bawah.

Kami tiba di Km.18 dengan peringkat pertama ditempati oleh Fajar dan Windy dengan Motor Suzuki Thunder nya diikuti oleh Wawan dengan Honda Supra Fit nya, ditempat ke-3 ada John dan Halima dengan Honda Vario nya, tepat di belakangnya ada gue dengan Yamaha Vixion dan di tempat terakhir ada Revans dan Ade dengan Honda Supra X 125 nya.


Tepat di depan John ada sebuah motor yg dikendarai oleh seorang ABG cewek (sebut saja Ayu) yg menurut gue masih SMP dalam posisi akan menyebrang jalan. Keliatannya tu anak baru belajar naik motor, karena waktu nyebrang keliatan banget mukanya galau. Saat itu John sudah memberi aba-aba agar Ayu langsung nyebrang karena posisi jalan memang kosong. Tapi entah karena takut liat wajah John atau malah terpesona ngeliat ketampanannya, si Ayu yg waktu itu ngebonceng temannya ini malah diam terpaku di tengah jalan. Berusaha agar gak menabrak, John  banting setir dan melewati sisi jalan satunya. Namun si Ayu ini tiba-tiba malah nyebrang, dan.....

"Tintiiiinnnn....!!!"
#JEGERRR

Tabrakan penuh cinta pun tidak dapat dihindari. Kalau kalian bingung lihat saja ilustrasi lebay di samping.
Gue yg saat itu tepat berada di belakang John sontak saja langsung berhenti dan langsung lari ke tempat John beserta Halima terkapar untuk melihat keadaan mereka.

Gue : "John!"
John : "Rapep!"
Gue : "Kamu kemana? Nelpon gak pernah, SMS gak pernah!"
John : "Aku kecelakaan bego!"
#KorbanIklan

Revans, Ade, beserta Wawan yg saat itu berada tidak jauh dari gue juga ikut berhenti. Untungnya keadaan John baik-baik saja dan yg lebih untung adalah Halima yg saat itu dalam posisi tanpa helm juga tidak mengalami luka parah selain kakinya yg tergores cukup panjang.

Masalah justru datang dari Ayu (temannya secara ajaib baik-baik saja), punggung telapak kakinya terluka sangat parah sampai mengeluarkan darah cukup banyak. Mau gak mau kami harus membawanya ke puskesmas terdekat. Di situ Fajar dan Windy yg tadi sudah berada jauh di depan kembali lagi karena menyadari kami gak lagi mengikuti mereka.

Terlalu panjang ceritanya kalo mau gue jabarin apa yg terjadi di puskesmas. Intinya di situ kami nanggung semua biaya pengobatan Ayu. Yg gue heran adalah waktu itu cuma 1 orang yg luka, yg diobati di puskesmas, kalo yg dateng keluarganya sih wajar sekitar 3-5 orang. Tapi waktu itu 1 RT dateng semua ke puskesmas! Suwer disamber Katie Holmes, kami cemas setengah mampus waktu itu. Di kelilingi warga dengan ekspresi orang yg udah 7 hari sembelit dan tatapan yg seakan menatap pencuri pakaian dalam, sebisa mungkin gue dan temen-temen gue pengen cepat-cepat cabut dari situ.

Dan semua urusan pun selesai sekitar pukul 18.40. Kami kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Hanya satu yg gak selamat, uang kami...habis buat bayar biaya pengobatan puskesmas! #GarukDinding

Yah... mau gimana juga kami tetap bersyukur urusannya bisa selesai tanpa berujung ke hal-hal yg tidak diinginkan. Nah, jadi dimana letak kisah cinta John? Jawabnya: TIDAK ADA! Hahahaa... Itu hanya gurauan kami saja. Karena waktu itu John 99% bertanggung jawab atas apa yg telah dia lakukan kepada Ayu. Di mata kami jadi seperti ini:

Ayu : "Jhon! Kamu harus tanggung jawab!"
John: "Iya Ayu, aku pasti tanggung jawab Yu"
Ayu : "Nikahi aku John!"
John: *epilepsi

Jadi benar-benar kisah yg romantis, sadis, dan tragis juga bombastis di mata kami para anggota GBA yg waktu itu menjadi saksi pertemuan John dengan Ayu. Well, kalo di sinetron orang serempetan aja bisa jatuh cinta lalu pacaran, gimana dengan yg tabrakan sampe separah itu? Gue rasa pasti langsung nikah deh.

Kesimpulan: Jika kalian masih jomblo dan ingin segera punya pacar, pergilah ke Sembawa Km.24 Palembang, lalu saat pulang usahakan nabrak cewek cantik yg kalian inginkan dan sesuaikan dengan kendaraan kalian. Menabrak cewek dalam truk saat mengendarai motor bisa berakibat rawat inap di Kamar Mayat.

Mari hijaukan Bumi ini
--vous voyez

Saturday, March 3, 2012

Putra-Putri SMANTA: My Era

Beberapa hari yg lalu gue lagi-lagi berkunjung ke SMA gue dulu, SMANTA, dalam rangka kunjungan organisasi. Sebuah organisasi yg buat gue merupakan organisasi resmi yg paling banyak meninggalkan banyak cerita semasa gue SMA; Putra-Putri SMANTA


Putra-Putri SMANTA itu sendiri merupakan sebuah organisasi yg mewakili seluruh siswa SMANTA (SMA Negeri 03) Palembang dan dibagi dalam 8 aspek. Bingung? Sama, gue juga bingung. Hahahaa... Jadi sederhananya liat aja deh event semacam Abang-None Jakarta atau Bujang-Gadis Palembang, nah kalau untuk SMA gue namanya Putra-Putri SMANTA (untuk selanjutnya mari kita sebut dengan Pa-Pi SMANTA).

Di Pa-Pi SMANTA ada 8 gelar yg masing-masing diemban oleh 8 siswa dan 8 siswi sebagai putra dan putri dan disesuaikan dengan kepribadian mereka. Jadi di Pa-Pi SMANTA anggotanya selalu dan akan selalu 16 orang, tidak pernah kurang atau lebih selama Marwan masih pacaran sama Mawar (emang gak nyambung). Delapan gelar itu sendiri adalah sebagai berikut:
  1. Putra-Putri SMANTA (King & Queen)
  2. Putra-Putri Intelegensi
  3. Putra-Putri Berbakat
  4. Putra-Putri Best Performance
  5. Putra-Putri Kepribadian
  6. Putra-Putri Favorit
  7. Putra-Putri Persahabatan
  8. Putra-Putri Lingkungan Hidup
Nah, di sini gue sendiri menjabat sebagai Putra Persahabatan periode 2009-2010. Mungkin karena sesuai dengan kepribadian gue yg selalu tersenyum. Teman lewat senyum, guru lewat senyum, Kepala Sekolah lewat senyum, penjual nasi tempat biasa gue ngutang lewat.... pura-pura mati! Lagi sendirian pun gue suka senyum-senyum sendiri. #gila

Berkunjung dan melihat para calon-calon Pa-Pi SMANTA yg sedang dikarantina membuat gue bernostalgia, kembali ke saat gue masih di posisi mereka, saat gue masih duduk dibangku kelas 1 SMA, culun, suka ngeces sana-sini waktu ngeliat duit, dan masih selalu dibuat bingung dengan pertanyaan: "Apa itu cinta?" #asseekk


Pemilihan Pa-Pi SMANTA dari tahun ke tahun terdiri dari 2 tahap tes; Tes Tertulis dan Tes Wawancara. Sebenarnya gue mau usul supaya di tambah dengan Tes Kesehatan dan Psikotes supaya nanti yg lulus sekalian dapet NIP (Nomor Induk Pegawai) dan diangkat jadi PNS. Tp gue sadar itu gak segampang kayak di iklan Pepsodent White Now. Tinggal sikat gigi pake Pepsodent White Now terus cengar-cengir di depan Kepala Sekolah nunjukin gigi yg tampak lebih putih seketika. Boro-boro usul gue dikabulin yg ada malah gue disangka gak waras.

Tes Tertulis gue gak seberapa mengesankan sih. Gue inget waktu itu ada pertanyaan tentang siapa nama keturan Mahatma Gandhi yg....entahlah, pokoknya yg terkenal deh. Nah, boro-boro nginget nama keturunan Mahatma Gandhi yg bahkan gue gak pernah kenal atau say hallo sama dia, nama nenek gue aja masih sering lupa. Jadi di sini gue jawab pakai cara logika-orang-bodoh. Gue mengira-ngira kalau nama keturunan Mahatma Gandhi itu pasti memiliki nama "Gandhi" juga di belakang nama kecilnya. So, gue jawab; ".... Gandhi". Minimal kalau poin tu soal 10, gue masih dapet 5 kan?

Entah karena jawaban keren itu atau karena apa, gue bisa lulus ke Tes Wawancara. Di sini kami diwawancara sama guru bahasa indonesia, guru kesenian, guru bahasa inggris, dan guru bimbingan konseling. Cukup lancar walaupun gue agak sotoy waktu di tanya soal berita hot yg ada di koran dan agak mengerikan juga waktu denger gue nyanyi waktu itu.

Penguji : "Sering baca koran?"
Gue : "Lumayan Bu"
Penguji : "Biasanya bagian berita apa yg sering kamu baca di koran?"
Gue : "Bagian resep masakan Bu"
Penguji : (mulai ragu sama orientasi seksual gue) "Hmm.. suka masak?"
Gue : "Ah, gak juga kok Bu"
Penguji : "Jadi kenapa?"
Gue : "Suka aja Bu liat gambarnya. Keliatan enak-enak"

Yg jelas lagi-lagi di sini gue lulus dan resmi jadi 16 finalis Pa-Pi SMANTA untuk periode 2009-2010. Di masa karantina gue belajar banyak hal soal Public Speaking, soal gimana jalan di atas panggung, soal olah vokal (walaupun mau diolah gimana juga suara gue tetep ancur), dan tentunya tentang apa itu arti sebuah kebersamaan.

Setelah lebih kurang 10 hari dikarantina akhirnya tiba juga hari dimana kami akan show di atas panggung. Satu-persatu peserta dipanggil dan diberi pertanyaan dari seorang juri yg dipilih secara acak. Dan tiba giliran gue

MC 1 : "Peserta berikutnya berasal dari kelas X.G"
MC 2 : "Eh, denger-denger peserta ini jago lho di seni bela diri Tae Kwon Do"
Gue : (tepok jidat)

Gue emang pernah mendalami bela diri Tae Kwon Do ini, tapi firasat gue gak enak kalo hal ini disebutkan di momen kayak gini. Dan benar saja, juri nyuruh gue untuk memperagakan gerakan Tae Kwon Do di atas panggung. Aduuhh... sekedar info, kebanyakan gerakan Tae Kwon Do itu dilakukan menggunakan kaki, dan kostum gue waktu itu kemeja + rompi dengan bawahan celana bahan + sepatu pantofel. Masa gue mau loncat-loncat gak karuan di atas panggung? Salah-salah celana gue bisa robek dan..... sudahlah, gue gak mau meneruskan demi kelangsungan hidup kalian.

Jadi sebisa mungkin gue ngeles dengan mengatakan, "Maaf, kostum saya sedang tidak memungkinkan untuk melakukannya, jadi mungkin lain kesempatan akan saya peragakan." atau "Maaf, pertanyaan yg Anda tuju sedang tidak aktif. Mohon coba kembali di lain kehidupan."
Tapi juri gak mau tau cuy, akhirnya terpaksa gue melakukan sedikit gerakan yg HANYA menggunakan tangan saja. Dan setiap gerakan gue selalu diikuti teriakan "Eaa! Eaa!" dari para penonton. Bela diri dengan sepatu pantofel itu kayak Afika yg seharusnya makan Oreo rasa jeruk malah makan racun tikus rasa jeruk.


Yah, untungnya hari itu pun cepat berlalu. Acara ditutup dengan penyerahan gelar yg mirip kayak proses ekstradisi di acara Penghuni Terakhir (walaupun gak lebay pake teriak-teriak). Dan di situ gue resmi menyandang gelar Putra Persahabatan 2009-2010.


Hari yg super melelahkan buat gue. Tapi overall, gue bersyukur banget bisa ngerasain pengalaman berharga ini. Bisa gue share sama junior-junior gue nanti, bisa gue ceritain ke anak-cucu gue, bahkan bisa gue jadiin film layar lebar yg bisa menembus Box Office Hollywood #lebay. Yg jelas gue bersyukur karena di sini gue bisa punya sebuah keluarga baru lagi, The Big Family of Putra-Putri SMANTA.

Kesimpulan: Sebelum melakukan gerakan bela diri, pastikan kalian tidak memakai pantofel ataupun celana bahan karena akan berakibat Afika salah makan Oreo (?)

Tuesday, February 21, 2012

Di Balik Sebuah Pintu Kamar Mandi

Beberapa hari ini gue iseng-iseng liat catatan daftar cerita yg rencananya nanti akan gue jadiin posting di blog ini. Gue liat lagi daftarnya dari awal sampai akhir. Dan setelah gue cermati secara seksama dengan menggunakan mikroskop, ternyata gue menemukan satu fakta penting; Tulisan gue gak bisa dibaca!

Hehehe...gak kok. Fakta yg gue temukan, ternyata 7 dari 20 atau sekitar 35% cerita gue diangkat dari kebodohan yg gue buat bersama para personil GBA. Dan akhirnya gue sadar bahwa bergabung di GBA merupakan keputusan tepat untuk menyalurkan bakat gue dalam hal berbuat bodoh.

Salah satu kisah yg gak akan pernah gue lupa adalah perjuangan kami para GBA Boys dalam rangka menghadiri acara ulang tahun salah satu anggota GBA itu sendiri yaitu, Maria Putri Rizkita atau yg sering kami juluki dengan bocah kencur a.k.a "bocur".

Siang itu tanggal 15 Mei 2010 tahun kodok bunting di kelas XI IPA C, salah seorang anggota kelas sekaligus salah satu anggota GBA, Maria, tiba-tiba menghapiri kami dengan ekspresi kekanak-kanakan yg sama sekali gak matching sama seragamnya dan berkalimat (kalo berkata terlalu sedikit),

"Eh dateng ya ke ulang tahun akyuu malam nanti jam 7.30 di rumah kyuu."*
*dialog di atas diberi majas hyperbola
untuk memberi kesan unyu

Intinya, kami semua anggota GBA plus personil XI IPA C diundang ke ulang tahun Si Bocur ini. Yah tapi soal ulang tahun itu urusan nanti. Buat kami gak jadi masalah mau ada perayaan ultah atau tidak. Tapi di XI IPA C ada sebuah peraturan kejam bagi yg ulang tahun; Traktir atau Mati!

Tapi tenang, pada prakteknya tidak sekejam itu. Kalo orang sering bilang praktek tak seindah teori, di sini gue harus bilang teori tidak seindah praktek. Peraturan yg kami buat memang terlihat kejam. Seolah anggota yg ulang tahun dan tidak mentraktir kami akan didiikat di tiang bendera dan dicabutin bulu kakinya sampai mati. Kalau tidak punya bulu kaki, bulu tangan juga boleh. Kalau masih tidak punya, bulu ketek tidak masalah. Masih tidak ada juga? Bulu-bulu yg lain juga boleh deh. Gak ada juga? Astagaa.. manusia bukan sih? Langsung potong lehernya deh!

Itu mungkin yg ada di benak kalian, walaupun gue kira gak sedramatis itu. Tapi kata "mati" di sini berarti "telur". Lho? Iya, to the point aja deh; kalo yg ultah gak mau traktir pada saat itu juga, maka jangan salahkan kami jika yg bersangkutan pulang sebagai adonan kue. Telur dan tepung jadi 2 benda wajib yg akan melayang ke kepala si korban.

Hal yg sama juga berlaku untuk Maria. Merasa sudah aman karena akan mengadakan acara ulang tahun malam nanti, Si Bocur ini pulang melewati lapangan basket dengan wajah tanpa dosa dan tidak menyadari 3 butir telur sudah kami siapkan spesial untuk rambutnya yg kruwel-kruwel gak jelas itu

Jhon (GBA): *menghampiri Maria* Mar, met ultah ya
Maria : *curiga sembari menjauh* Jhon, jangan main ceplok-ceplokan telor deh
Jhon: Gak kok, mau ngucapin selamat aja gak boleh
Maria : *gak curiga lagi lalu mendekat* Iya deh...
#PRAAAAKKK!!!
#GOOOLLLL!!!

Satu telur menetas secara paksa di kepala Si Bocur. Dan tak bisa dibendung lagi 2 telur lain yg sudah kami siapkan juga dipaksa menetas di kepalanya. Tapi semua berubah saat... (eits, bukan saat Negara Api menyerang lho!)

"HHUUUUAAAAA!!!"

Tanpa kami duga sebelumnya, tiba-tiba saja Maria menangis sejadi-jadinya. Tangisannya itu mirip sekali dengan bayi labil. Kalo kalian sebelumnya belum pernah lihat bayi labil, maka Maria ini lah contoh konkritnya. Dan melihat Maria menangis semakin membuktikan fakta bahwa secantik apapun seorang wanita, kalo udah nangis, jangan harap ada kata cantik lagi yg akan terucap. #SokPuitis


"Kepala aku berdarah nih kena telooorrr... HHUUUUAAA!!!"

Ya ampuunn...dari mana asalnya coba kepala bisa berdarah cuma karena diceplok telur? Kalo emang bisa, mungkin udah dari dulu telur dijadiin senjata tawuran menggantikan batu. Dan mungkin waktu kita mau bikin telur dadar, mecahinnya harus dibanting dari lantai 30 dulu. Ini nih kenapa gue dan anggota GBA lain menjuluki Maria, bocur. Cara berfikir dan tingkahnya waktu itu bisa disetarakan sama adik gue yg masih kelas 2 SD. Yah, tapi mungkin berkat keunikan itulah dia bisa betah di GBA. The art of GBA.

Merasa bersalah atas insiden "berdarah" itu, kami GBA Boys bertekad memberi sesuatu yg spesial di acara malam nanti. Dan setelah melalui rapat yg panjang nan melelahkan, akhirnya kami putuskan untuk memberi Maria kado sebuah bonekayg cukup besar, Boneka Lumba-Lumba.


Dua insiden konyol kembali menyertai kami sebelum tiba di kediaman Maria:
Yg pertama sih menurut gue gak seberapa konyol. Insiden saat kami menemukan kotak kardus yg cukup besar untuk menampung boneka lumba-lumba yg sudah dibeli. Ternyata saking lamanya tu kardus disimpan di gudang, saat kami keluarkan para penghuni seniornya (baca: kecoa) pada kalang kabut. Cukup mengerikan buat gue mengingat gue seorang Entomophobia atau Insectophobia (phobia terhadap serangga), terutama pada serangga-serangga terbang seukuran kecoa. Untungnya gue berhasil menahan diri untuk teriak, kalo tidak bisa-bisa dikira tetangga ada banci kejepit pintu.

Insiden kedua saat kami berkumpul di rumah Tommy, salah satu anggota GBA, sebelum pergi ke acara ulang tahun Maria. Akhmad, salah satu personil maho kami setelah pasangan "Double.D" (Ditto & Dimas), memutuskan untuk mandi di rumah (tepatnya di kamar) Tommy pada waktu itu. Berhubung pintu kamar mandi di kamar Tommy tidak bisa dikunci dan hanya ditutup ala kadarnya, muncullah ide biadab dari otak kami semua. #MunculTanduk

"Satu..dua..tiigaa!"
BRAKKK!!!

Tidak kurang dari 3 kaki bertenaga kuda menerjang pintu kamar mandi, dimana Akhmad sedang syahdu menggosok badan di dalamnya. Dan...WOW! Seksi book! Hahahaa... Refleks si Akhmad pun mencoba menutupi "harga diri" nya.

Sebuah insiden yg cukup mengundang tawa pada saat itu.
Yah, tapi terlepas dari semua insiden yg ada, acara malam itu berlangsung cukup meriah walaupun hujan sempat mengguyur Kota Palembang. Well, tentunya kado dari kami cukup mengundang sensasi berkat ukuran kotaknya yg cukup besar udah kayak bawa selusin bom siap ledak.

Dan malam itu pun gue dan 1/2 dari GBA Boys memutuskan untuk menginap di rumah Tommy. Acara menginap malam itu diisi dan ditutup dengan suara-suara kentut nan merdu dari kami semua beserta aromanya yg menurut gue cocok sekali dijadikan senjata pemusnah massal. The Art of GBA.

Selamatkan anak bangsa dari bahaya Narkoba
--fin

Friday, February 17, 2012

Antara Aku Dan Peliharaanku

Kalau gue flashback lagi, sepertinya punya peliharaan itu hal wajib buat keluarga gue, entah itu hewan yg hidup di darat atau pun di air. Tapi sejujurnya, nyokap gue gak seberapa suka kalo kami punya peliharaan. Alasannya? Yah, yg paling utama itu karena kotorannya lumayan mengganggu. Nyokap gue itu orangnya sensitif banget kalo masalah kebersihan. Tapi kalo gue, bokap, dan adik-adik gue sudah berkehendak, susah deh mau nolaknya. Alhasil, hewan peliharaan pun dibeli. Dan sebelumnya nyokap pasti sudah ngewanti-wanti; "Nanti binatangnya diurus sendiri-sendiri lho!"

Alhasil dari gue masih jadi anak tunggal sampai punya 2 orang adik perempuan yg cukup merepotkan sekarang ini, rumah gue udah kayak halte bus untuk para binatang. Mereka singgah, sebelum akhirnya pergi. Entah itu mati atau pindah kelain hati. #SokPuitis

Gue inget pertama kali gue tinggal di Kota Metro saat gue masih belia, masih polos, belum ternoda, belum terkontaminasi iklan-iklan jaman sekarang yg cenderung lebay, dan masih suka ngiler sana-sini, keluarga gue melihara 5 jenis hewan sekaligus; kelinci, burung, ayam, angsa, dan yg paling unik adalah kuskus. Dan jumlah dari masing-masing spesies pun gak tanggung-tanggung (kecuali kuskus yg masih jomblo).


Kelinci yg awalnya gue beli sepasang, entah karena emang udah waktunya atau kelinci yg kami beli itu punya kelebihan hormon esterogen dan androgen, tu kelinci kerjaannya kawin melulu cuy! Setiap pagi gue bangun dan ke halaman belakang, pemandangan yg pertama gue liat adalah honeymoon ala kelinci yg gak banget. Gue sedikit tersinggung di sini. Gue beli tu kelinci secara terpisah, begitu disatuin, mereka main kawin aja. Mereka bahkan gak pernah bilang kalo mereka pacaran. Kenapa harus backstreet? Dan kapan coba lamarannya? Akad nikahnya? Kapan resepsinya? Kenapa gue gak diundang? Padahal secara tidak langsung gue ini wali yg sah dari pihak mempelai (kelinci) wanita.

Tapi berkat "rutinitas" kelinci gue itu, mereka jadi beranak-pinak. Dan emang sudah sewajarnya, justru kalo gak, gue suruh si cewek untuk menggugat cerai suaminya karena pasti dia mandul! Hasilnya mereka sudah memiliki banyak anak, dan mungkin juga punya cucu. Satu lagi keluarga bahagia di halaman rumah gue.

Buat ayam, burung, dan angsa, gue gak seberapa perhatian sama mereka. Setau gue tiba-tiba mereka sudah beranak-pinak aja. Yah, gue gak seberapa peduli, toh itu yg beli bokap gue. Pada dasarnya gue ini suka sama hewan mamalia terutama yg berbulu semacam kelinci, kucing, dan hamster.

Begitu pindah rumah, mau gak mau gue juga harus ninggalin mereka. Karena takut bakal gak keurus kalo gue tinggal, akhirnya masing-masing dari mereka gue beri pesangon untuk pulang ke keluarga masing-masing di kampung halaman.

Di rumah baru gue coba melihara sepupu jauh dari tikus, hamster. Seperti biasa, gue beli sepasang. Dan lagi-lagi, hamster gue kerjaannya kawin melulu! Hadeeh... kok kayaknya kalo gue yg beli, hewan peliharaanya cuma bisa kawin terus ya? Apakah ini karena menyesuaikan sama yg beli (Lho?!) ? Karena anaknya sudah terlalu banyak dan gue sudah cukup repot untuk menafkahi keluarga besar hamster ini, gue putuskan untuk membagi mereka ke teman-teman gue.

Setelah itu bokap gue melihara burung kacer, jenis burung kicauan. Tapi karena waktu itu bokap gue ada dinas luar kota dan itu memakan waktu cukup lama (sekitar 5 bulan), mau gak mau gue jadi orangtua angkat tu kacer. Beh..ngurusin 1 burung aja susah, apa lagi mau 2 (waktu itu emang kacernya ada 2!).

Karena cukup kerepotan, dengan izin bokap, burung (kacer) nya gue jual seekor. Dan tragis, burung (kacer) yg satu lagi harus meregang nyawa di rahang kucing. Jadi gini, waktu itu gue mau ngisi tempat makan dan tempat minum burung (kacer) gue. Entah karena alasan gila apa, tu burung (kacer) lompat keluar! Nemplok di pager rumah dan terbang entah kemana. Gak lama setelah itu seekor kucing lewat dengan santainya di depan muka gue sambil membawa burung (kacer) gue di mulutnya. Wajah songong tu kucing seolah berkata:

"Burung (kacer) lo lepas nih, gue tangkep ya. Lumayan buat dinner bareng gebetan. Thanks kakak, jangan sedih, cemungut eeaa.."

Di tahun 2012 sekarang ini, atas permintaan adik gue yg paling kecil, keluarga gue melihara ikan hias kecil. Seolah menyesuaikan dengan tingkah extraordinary keluarga gue, tu ikan punya kebiasaan jumping dari dalam air. Mungkin karena sebelum ini dia terlalu sering lihat video-klip Bondan, Si Lumba-Lumba.

Pernah beberapa kali, tu ikan ditemukan sekarat di lantai di samping akuarium. Dugaan gue, ikan ini baru saja mencoba style melompat yg baru dia pelajari dan karena terlalu semangat, jadi offside deh. Atau karena terlalu frustasi, dia melakukan percobaan bunuh diri. Yg manapun itu, gue sudah berencana meletakkan palang di dalam akuarium yg bertuliskan: "Dilarang Melompat! Yg Melompat Berarti Guguk!"

Kesimpulan: Saat beli ikan, pastikan si ikan bukan pencinta video-klip Inul atau kalian akan dicekal oleh FPI karenanya.

Nyalakan lampu utama sepeda motor pada siang hari
--vous voyez

Sunday, February 12, 2012

Elephant Never Forget, I ALWAYS Forget

Gue akhir-akhir ini baru sadar bahwa ternyata gue bener-bener punya masalah dalam hal mengingat nama seseorang. Entah sejak kapan gue mengalami masalah pelik ini, tapi sejauh yg gue inget sampe sekarang gue bener-bener susah mampus nginget nama orang. Untungnya gue gak lupa sama nama gue sendiri, bisa-bisa gue koprol di jalanan sambil teriak: "Siapa aku? Uuwooo!!" #SerasaTarzan

(should I do this?)
Contohnya nih waktu ospek di kampus STPI sebelum gue pindah ke STAN, gue sempet kenalan sama orang yg berdiri tepat di samping gue. Namanya lumayan simpel, Dana. Tapi berkat problem gue dalam mengingat nama orang, gak sampe 5 menit gue udah lupa namanya. Dan saat gue bilang lupa, itu memang bener-bener lupa

Dana: Hai, nama gue Dana. Lo siapa?
Gue  : Gue Rafif
Dana: Lo darimana fif?
Gue  : Gue dari tadi di sini
Dana: Maksud gue asal lo darimana. Gue dari Bekasi
Gue  : Oh, gue dari Palembang
----hening sekitar 5 menit karena senior lagi mengeluarkan buih dari mulutnya (baca: ngoceh)----
Gue  : Eh Rudi, lo di sini ngekos?
Dana (Rudi): *diam sejuta kata*

Sumprit, kejadian itu emang bener adanya. Gue juga bisa heran, kenapa coba Dana bisa jadi Rudi? Apa coba yg gue pikirkan waktu itu sehingga muncul nama Rudi? Dan siapa itu Rudi? Kenapa harus Rudi? Bagaimana bisa Rudi? Pertanyaan berbasis 5W+1H+9M-7Y/2T muncul dari benak para penduduk Indonesia. Rudi Hartono? Dana waktu itu gak lagi megang raket bulutangkis kok. Rudi Suwarno? Boro-boro mikirin penata rambut terkenal itu, kenal aja kagak. Selama ini rambut gue ditata sama mahluk setengah plastik yg memiliki banyak gigi (baca: sisir). Rudi Choirudin? Gue akui waktu itu gue emang lagi laper, tapi daripada mikirin seorang chef cowok dan kesannya gue kayak homo, enak mikirin chef Farah Quinn aja, lebih padat dan berisi (masakannya!).

Kejadian yg sama terulang lagi waktu gue kuliah di STAN dan ketemu nama-nama baru yg cukup memusingkan. Percaya atau gak, saat seluruh temen gue udah pada hafal seluruh nama personil di kelas, gue baru bisa hafal paling banyak 1/2 dari nama-nama tersebut. Dan hal ini (sampai saat sebelum posting ini ada) hanya diketahui oleh temen sekelas gue dulu, Ditto yg secara ajaib berada di kelas yg sama lagi dengan gue.

Gue: Eh tok, nama tu orang siapa sih?
Ditto: Yg mana pip?
Gue: Itu tu, yg kayak bebek minum Bir Bintang *sambil monyongin mulut mengarah ke korban*
Ditto: Oh, itu? Namanya --tttiiiiiitttt-- *sensor*
Gue: Hmm.. lumayan ganteng tuh
Ditto: Eh, jangan macem-macem lo pip! Gue udah ngincer dia duluan
#ObrolanMaho

Oke, semua hal di atas benar adanya kecuali 2 poin terakhir. Plis, jangan berfikir aneh-aneh, gue masih normal.
Hal yg sama juga terjadi saat gue coba menghafal nama-nama 10 dosen yg ngajar kelas gue. Dari 10 dosen, saat itu gue baru inget 1 nama: Mam Sri, dosen Bahasa Inggris gue. Itu pun kalo kalian tanya nama panjangnya gue gak tau. Paling gue bakal jawab: Sri Mulyani, nama mantan menteri keuangan.

Akhirnya demi memudahkan mengingat nama para dosen, gue memberikan julukan sendiri kepada masing-masing dari mereka

(sumprit, mirip lho)
  • Dosen PBB: Pak Aang (baca: Eng). Namanya memang Aang, tulisannya mirip nama The Last Airbender. Dugaan gue, beliau juga punya tato di kepalanya kalo dicukur botak.
  • Dosen KUP: Pak Boyke. Kalo gue perhatikan mukanya emang mirip Dokter Boyke versi macho.
  • Dosen PIE: Pak Duren Sekseeh. Beliau suka banget buka 2 kancing teratas baju kemejanya kayak bintang iklan parfum Casablanca plus selalu memberi contoh dengan menyebutkan kata "Durian"
  • Dosen PPh: Pak Jarwo Kwat. Sumprit demi apapun, bapak ini emang mirip banget sama komedian Jarwo Kwat yg main jadi Pak Jalal di serial Para Pencari Tuhan.
  • Dosen Agama: Pak Giant (baca: Jayen). Sadar atau tidak, wajah bapak ini sedikit mirip sama tokoh Giant di film Doraemon
  • Dosen Statistik: Pak Nobita. Entah kenapa akhir-akhir ini gue merasa bapak ini memang mirip sekali dengan Nobita
  • Dosen PHP: Pak ACDSee. Kenapa? Peristiwa gue dapet julukan ini dengan sangat menyesal gue rahasiakan demi menjaga stabilitas bursa saham.
Nah untuk dosen Hukum, Pak Abu, (jangan berfikir gue inget karena kumisnya kayak abu gosok) dan dosen Akuntansi, Pak Taufik (jangan kira gue hafal karena dia selalu bawa raket ke kelas dan melakukan backhand smash ke murid-muridnya), entah kenapa gue bisa hafal dari awal namanya.

Jadi sebenarnya, kunci supaya gue bisa mengingat nama seseorang adalah keunikan dari orang tersebut. Baik itu di namanya, di penampilannya, ataupun di tingkahnya. Selain itu hampir mustahil buat gue untuk mengingat nama seseorang dalam waktu singkat. So, buat kalian yg merasa gak terlalu kenal sama gue tapi bisa gue sebut namanya dengan benar, lebih baik koreksi lagi wajah dan tingkah kalian. Gue yakin salah satu diantaranya ada yg konyol. Atau jika beruntung, mungkin keduanya.

Makan 4 sehat 5 sempurna
--fin

UTS Berdarah

Bonjour!
Minggu yg cukup suram buat gue. Bukan karena gue cuma stay tune di rumah, tapi karena cuaca mendung kota Palembang ini membuat hati gue semakin galau. Iya, gue galau. Gak usah cekikikan denger fakta bahwa gue galau. Gue bukan remaja labil yg selalu bingung soal gebetan, pacar, ataupun behel (?). Dan gue juga mendeklarasikan diri sebagai manusia yg paling jarang galau. Tapi sumprit, minggu ini gue galau tingkat dewi (dewa lagi main gaplek di pos ronda).

Tapi tenang, di posting kali ini gue bukannya mau curhat tentang kegalauan gue. Jadi, mari kita lupakan sejenak tentang apa yg gue katakan tadi dan kembali ke jalur yg benar. Alhamdu...lillah... . Pada kesempatan kali ini, seperti yg sudah dijanjikan, gue akan bercerita mengenai siksaan (baca: UTS) yg gue alami selama 5 hari belakangan ini.

Sebenarnya ini pertama kalinya gue dibuat pusing sama yg namanya UTS. Sebelumnya di SMA, UTS itu udah jadi sohib gw. Gak percaya? Ini buktinya:



Gue : *jalan di lorong kelas sambil ngupil*
UTS: *jalan dari arah berlawanan sambil baca buku*
--tabrakan, buku si UTS jatuh dan hidung gue berdarah kesodok jari waktu ngupil--
Gue & UTS: *saling bertatapan
UTS: Rapip?!
Gue : UTS?! *dengan hidung berdarah*
UTS: Kamu kemana aja? Telpon gak pernah! SMS gak pernah!
Gue : Aku kena diare!
Tante-tante entah darimana: Minum Adem Sari!
#SalahIklan

Intinya, sebelum ini gue gak pernah sedikitpun merasa tertekan sama yg namanya UTS. Setiap malam sebelum UTS, atau zaman gue SMA dulu disebut Mid Semester, hal yg gue lakuin adalah nyari buku pelajaran yg bakal diujikan besok, baca judul sampulnya, nama pengarangnya, dan tidur sambil berharap besok pertanyaan yg keluar adalah: "sebutkan nama pengarang buku A". Besoknya gue berangkat pagi-pagi sekali. Bukan untuk belajar di kelas, tapi supaya gw bisa muter lewat lampu merah dan beli koran pagi. Bukan untuk gue baca, tapi gue gletakin tu koran di atas meja pengawas. Yap, biar waktu ujian nanti mata si pengawas gak tertuju kepada kami. Jadi senjata pemusnah masa (baca: buku) yg kami simpan di bawah meja bisa digunakan dengan leluasa. Alhasil? Mid Semester: SUKSES!

Tapi hal yg berlawan justru terjadi sekarang ini. Di kampus gue, berlaku sistem DO alias Drop Out atau bahasa kerennya "pecat" untuk setiap mahasiswa yg kedapatan melakukan kecurangan saat ujian. Jadi mau gak mau, suka gak suka, cinta gak cinta, gue harus belajar secara formal (baca: buka buku pelajaran) yg selama ini sangat jarang gue lakukan. Alhasil, kepala gue ngebul keluar asep hitam, dan ini cukup membuat gue jadi stres menjalani keseharian gue. Misalnya waktu gue selesai belajar Mikroekonomi dan lagi di jalan pulang dari warung, gue ketemu abang penjual somay

Gue : Bang, gerobaknya mogok ya?
Abang Somay : Ah, gak kok dek
Gue : Kok didorong?
Abang Somay : Abis bensin doang kok
Gue : Oohh..
#ObrolanBego

Hari pertama UTS sih lancar-lancar aja. Syukur alhamdulillah otak gue belum mati sistem memorinya, jadi masih bisa dipake hafalan. Walhasil, KUP (Ketentuan Umum Perpajakan) dan Agama bisa gue lewati dengan cukup baik. Walaupun ada beberapa jawaban yg gue jawab dengan logika remaja galau

Q : Untuk apa manusia diciptakan di muka Bumi ini?
Gue jawab : Untuk menemani malam-malam sepi yg biasa dilalui oleh seorang anak manusia yg menanti sang pujaan hati datang membawa sejuta cinta kasih untuk dibagi... dan bla bla bla

Gue yakin nilai gue pasti A kalo jawaban itu dikoreksi sama rohnya Chairil Anwar.
Hari ke-2, Akuntansi feat Hukum. Hadeeeh.. jangan ditanya deh! Itu salah satu hari tersuram gue selama UTS ini. Waktu 2 jam gue abisin buat ngotak-ngatik Laporan Neraca gue yg gak balance (seimbang). Mulai dari ngecek ulang Jurnal Umum gue, sampe ngitung ulang Akun-T yg gue buat, tapi apa daya Neraca gak juga seimbang. Akhirnya jalan terakhir, gue pelotototin tu Neraca sambil komat-kamit ala mbah dukun dengan harapan angkanya tiba-tiba berubah dan jadi seimbang. Namun gue sadar tampaknya itu tindakan autis yg tidak perlu kalian tiru. Begitu waktu habis, gue baru nyelesaiin 3 tahapan; Jurnal Umum, Neraca Sebelum Penyesuaian (yg gak seimbang), dan Jurnal Penyesuaian (ini pun belum kelar). Dan langkah bodoh terakhir yg gue lakukan adalah nulis kata-kata berikut di kertas jawaban gue:

"Habis waktu pak, I'm sorry good bye"

Dengan harapan Pak Dosen, yg menurut gue dulunya mantan stand up comedian, bakal bales; "Gak apa-apa nak, cemungut eeaaah". Dan Hukum pun sama, otak gw tiba-tiba blank waktu jawab soal essay. Akhirnya hari itupun gue pulang dengan kepala ngobrol sama kaki (baca: nunduk).

Hari ke-3, PHP (Pengantar Hukum Pajak) dan Bahasa Inggris jauh lebih baik dari hari sebelumnya. PHP lancar, semua yg gue hafal masuk, jadi tangan gue lancar banget nulis di lembar jawaban. Sampai-sampai lembar jawabannya habis pun gue tetap nulis di atas meja dan waktu ngumpul gue juga kumpulin mejanya. Bahasa Inggris, entah karena gue emang seneng sama tu pelajaran atau karena insting bahasa gue yg lumayan top class (serius nih, gak usah melet-melet kayak kadal hipotermia), bisa gue jawab dengan cukup baik walaupun sempet bingung berkat soal pilihan ganda yg dijadiin essay

"The words 'intricate' can be replaced by..."
Ini jelas soal pilihan ganda men, tapi kali ini dijadiin essay. Akhirnya gue jawab dengan 1 jawaban simpel: "Look on Oxford Dictionary" (lihat kamus Oxford)

Hari ke-4, Mikroekonomi feat PBB. Plis, jangan tanya gue tentang dua hal ini. Kalian tahu bagaimana rasanya ketika kita sudah belajar, sudah hafal, yakin bisa ngerjain soal, dan tiba-tiba begitu kita kumpul jawaban ternyata jawaban kita salah? Gak enak men, sumprit! Rasanya tu kayak DIBELAH atmosfir berlapis-lapis, DIKUNYAH sama Paus akrobatis, terus HANCUR jadi rasi bintang paling sadis. Gak usah ketawa! Karena hidup banyak rasa, tonjokkan gue punya banyak rasa untuk wajah kalian.

PBB yg gue yakin soal essay hitungannya bener, ternyata gue kepleset disana-sini. Pilihan gandanya pun ngebahas undang-undang yg sama sekali gak gue baca sebelumnya. Hari itu membuat gue merasa turun ke kasta terendah.

Hari terakhir, PPh (Pajak Penghasilan) dan Statistik. Malamnya gue udah janji sama diri gue sendiri biar kebodohan dan kecerobohan waktu PBB gak terulang lagi. Gue hafalin konsep-konsep di PPh baik teori maupun hitungan, begitu pula dengan Statistika. Dan wow! PPh lancar cuy! Kalian tau rasanya? Kayak Chila yg dikasih Oreo Ice Cream rasa baru sama temennya (emang gak nyambung, tapi Chila tu unyu beeuud). Statistik pun sama, walaupun sempet blank rumus di soal pertama, alhamdulillah bisa inget lagi setelah gue kerjain soal lainnya. Gak sebagus PPh sih hasilnya, tapi gue tetep bersyukur.

Oh iya, buat teman gue yg sempet 'kepleset' di statistik, yg semangat ya. Buatlah janji kepada diri kamu sendiri untuk tidak mengulangi hal yg sama dan tepati itu. Soal yg kemarin biarlah berlalu, biarkan hasil mengurus dirinya sendiri. Jangan mengkhawatirkan hal-hal yg tidak bisa kita ubah, awan tidak pernah mengkhawatirkan kemana angin akan berhembus. Ganbate! L'esprit! Semangat!

Akhirnya, UTS pun selesai. Hari terakhir gue tutup dengan penyelesaian yg tidak buruk. Secara keseluruhan, UTS kali ini kalo gw nilai....yah dapet B lah rata-rata (ngarep).


Kesimpulan: Jangan pernah nonton pertunjukan Paus akrobatis setelah ngerjain soal PBB kalau kalian gak mau dikunyah dan dijadiin kudapan sama tu Paus.

Makan sayur dan buah untuk kesehatan
--au revoir

Wednesday, January 25, 2012

Road to BDK Palembang: Final Step (Part II)

*tetterreeeett teteteettetetett tetterrreeeetttt (bunyi terompet)
*psyuuu... jdum! jdum! duarr! duaarr! (bunyi petasan dan kembang api)
*jgeerrr!!! BLAR!! (meledak)
KEBAKARAN! KEBAKARAN! Uwwoooo!! KEBAKARAN!!!
#autis
(efek kesalahan teknis)

Ehm! Maaf, ada sedikit kesalahan teknis tadi (kecelakaan teknis tepatnya).
Maksud gw mau memberi pembukaan yg meriah untuk posting kali ini, tapi yg namanya takdir itu memang cukup mengerikan. Jadi kenapa gw mempersiapkan pembukaan yg meriah kali ini?
Yak, karena malam ini gw akan menerbitkan posting terakhir bagian ke dua dari seri Road to BDK Palembang.

Yaah, tapi berhubung pembukaannya hancur belur dan babak lebur, jadi kita langsung saja ke cerita.
Okay! Langsung ke TKP (Tempat Kesialan Pengarang):

    Diceritakan sebelumnya gw dengan beruntungnya berhasil lolos tes tahap ke-3 USM STAN untuk Tahun Siksaan 2011-2012. Dan setelah melalui perhelatan dahsyat selama kurang lebih 2 bulan di Jakarta, kali ini gw putuskan untuk angkat koper dari Ibu Kota dan kembali ke Palembang untuk menempuh pendidikan STAN di BDK (Balai Diklat Keduitan *Keuangan maksudnya).

    Seperti yg kalian ketahui dari cerita sebelumnya bahwa entah karena kutukan Dewi Kwan Im atau karena kebodohan tingkah gw sendiri, dengan suksesnya gw bangun kesiangan dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta nggak kurang dari pukul 6.30 pagi yg seharusnya gw sudah check-in paling nggak pukul 6.00 pagi.

(biar lebih jelas, liat peta nih)
    Sebenarnya bisa aja sih gw tiba lebih awal di terminal 1A (terminal untuk maskapai yg gw pilih waktu itu), tapi lagi-lagi kutukan Dewi Athena menyertai gw. Kenapa? Gw ketiduran cuy di Bus Damri! Kalo cuma ketiduran sih nggak masalah, tapi yg jadi masalah di sini gw kelewatan turun di terminal 1A! Itu belum seberapa kalo gw masih bisa turun di terminal 1B atau paling sial 1C lah. Tapi ya itu tadi, kutukan Dewi Isis masih melekat dalam diri gw (kok kesannya gw manusia terkutuk ya???). Dengan sialnya gw bangun pas banget di terminal 2D! Dan untuk balik ke terminal 1A harus muter balik pake taxi pemirsa!


    Hadeehh... udah telat berangkat, ketiduran, salah turun terminal pula. Ini nih penerapan secara langsung dari peribahasa; sudah jatuh tertimpa tangga dicolek Surya pula *cewek(?) kelas tetangga. Gw sedikit kesel nih sama kondekturnya, masa bangunin gw di terminal 2D yg penerbangan luar negeri? Gw tau tampang gw keren kayak bule (bule Afrika!), tapi kan paling nggak bisa bangunin gw di terminal 1C dulu donk?? Yah, tapi mau gimana lagi, gw juga salah sih.

    Akhirnya dengan wajah pasrah kayak mau dicium Katy Perry (ini sih lain pasrahnya), gw muter balik naik taxi ke terminal 1A. Dengan harap-harap cemas bagaikan orang ngantri di WC umum (ada gitu hubungannya?), gw check-in nih.

Petugas: "Maaf pak, bapak terlambat. Pesawatnya sudah berangkat 10 menit yg lalu"
Gw: #hening
Petugas: "Pak? Maaf pak?" *mulai ketakutan
(selang yg ini nih)
Gw: "Oh, oke." *stay cool

 Akhirnya gw pergi ke toilet terdekat dan nangis di bawah shower. Tapi berhubung nggak ada shower, jadi gw pake selang toilet. Yg penting kayak di film deh.

Ehm! Maaf, lagi-lagi khayalan tingkat tinggi gw muncul.
Jadi, kembali ke tank....top!



    Nah, yg bener gini nih;

"Maaf pak pesawatnya sudah berangkat 10 menit yg lalu"
"Jadi gimana mas? Bisa pindah jadwal?" (cemas)
"Bisa dipindah ke jadwal lain pak" (ni orang manggil gw "pak" terus dari tadi, masih baby face gini juga *jangan ganti y jadi i)
"Oh, kapan itu?"
"Adanya untuk penerbangan sore hari pak, jam 15.30"
 "Oh..." #galau

    Kalian pikir deh, pada saat itu waktu menunjukkan pukul 7.00 pemirsa! Jadi 8 jam ke depan gw mau kemana coba? Sedangkan barang bawaan gw waktu itu udah kayak warga kampung kena gusur pemerintah, 1 koper, 1 tas travel, sm 1 tas ransel. Ckckck...

    Tapi mau gimana lagi? Mau pesen tiket lagi? Nggak bisa, waktunya nggak cukup. Gw perlu waktu di Palembang ntar untuk nyiapin berkas-berkas buat keperluan daftar ulang, sedangkan untuk dapet tiket murah harus pesen tiket paling nggak 3 hari sebelum keberangkatan. Mau pesen tiket hari ini juga? Waduh bisa 500 ribu lebih harganya masbro. Dan akhirnya terfikir 1 ide brilian di otak gw; cari satu penumpang tujuan Palembang, ajak kenalan, pura-pura baik, culik, bunuh di tempat, dan ambil tiketnya. Hahahaa...!

    Ehm! Maaf, lagi-lagi Jin Iffrit dalam diri gw ikut berbisik.
    Jadi gimana solusinya? Mau nggak mau, suka nggak suka, cinta nggak cinta, gw harus terima lamarannya Scarlet Johansson kali ini. Lho?! Nggak, becanda kok. Maksudnya mau nggak mau gw harus ngambil jadwal jam 15.30 itu. Biarlah gw nunggu di bandara sampe gw berubah jadi Prasasti Bandara Soekarno-Hatta. Yg penting gw bisa pulang hari itu.

(mungkin ini yg akan terjadi waktu itu)

    Selesaikah masalahnya? Gw berharap begitu, tapi kutukan Dewi Hera berkata; Ooo... tidak bisaaaa! Dan ternyata benar, waktu gw ke loket bagian pindah jadwal gara-gara terlambat (jelek banget ya nama loketnya? Versi gw nih) ternyata ada biaya tambahannya pemirsa. Oke lah, kalo cuma 100-200 ribu nggak ada masalah buat gw, tapi kalian tahu berapa biaya tambahannya? 400 ribu pemirsa, 400 ratus ribu! Kalian tahu betapa menderitanya jiwa raga ini mendengar nominal itu? *mendramatisir.

   Di sini gw semakin mempertimbangkan untuk bunuh diri saat itu juga. Tapi berkat semangat dari orang-orang yg sudah berharap banyak terhadap gw dan juga semangat dari seluruh penduduk Bumi akhirnya gw berhasil mengumpulkan 7 buah Dragon Ball dan memanggil Dewa Naga (?).



    Hehehee.. Maaf, itu tadi sinopsis dari film terbaru gw; The Degan-Ball.
    Nah, kembali ke tank....top!

    Nah berhubung tekad gw sudah bulat untuk pulang hari itu juga, jadi 400 ribu pun tetap gw usahakan. Begitu narik duit di ATM, ternyata saldonya cuma bisa keambil 350 ribu. Cek saldo di dompet, waduh! Isinya bikin gw meneteskan air mata haru; kosong. Terpaksa deh gw pakai pilihan bantuan terakhir; phone a friend. Dalam kasus gw, phone a Emak.

(ilustrasi gw waktu telefon nyokap)
    Yah...padahal sebisa mungkin gw nggak mau ngerepotin ortu. Mungkin, lebih tepat kalo dibilang gw nggak mau ngasih tau ortu, males diomelin. Hehehee... Tapi ya itu tadi, keluarga memang tempat pertolongan terakhir kita. Akhirnya dengan jangtung yg sudah dag-dig-dug-derr, gw telefon nyokap di rumah. Nggak perlu diceritakan gimana percakapan gw sama nyokap, terlalu mengerikan. Intinya sudah pasti gw dikirimin uang lagi, tapi tentunya diikuti dengan ceramah ala Chef Farah Quinn. Lho?? Nggak, maksud gw sudah pasti diikuti dengan omelan dan nasihat seputar kebodohan gw hari itu. Yah, mau gimana lagi? Terima aja, memang semua ini salah para pembaca kok, eh nggak ding, salah gw maksudnya.

    Dan setelah melalui cobaan yg berat di telefon, akhirnya SMS yg ditunggu pun datang;
    "Uangmu sudah dikirim, anakku yg pinter!" #JLEB
    Kata-kata terakhirnya itu lho, menusuk jantung, menyentuh jiwa, dan mengguncang iman sekali pemirsa. Dan akhirnya lagi-lagi gw pergi ke mesin ATM. Nah, apakah kalian pikir kutukan gw selesai begitu saja? Lagi-lagi gw berharap begitu, namun lagi-lagi juga, kutukan dari para Dewi tetap menghujani gw. Dan kali ini Dewi Aphrodite lah yg menurunkan kutukannya. Apa yg terjadi? It's time to....QUIZ!!!

a. Kartu ATM gw hilang
b. Dompet gw hilang
c. Otak gw hilang
d. Dengkul gw hilang, atau
e. Kartu Timezone gw hilang (penting?)

(cool kan?)

     Silahkan kirim jawaban kalian ke e-mail gw, bagi pemirsa yg beruntung akan mendapatkan paket menginap 3 hari 2 malam bersama gw plus kecupan hangat dari Ronaldinho (jarang-jarang lho dikecup pemain bola). Haahahaa... Cuma bercanda kok.


    Jadi apa jawabannya? Yak, a. Kartu ATM gw HILANG!!!


    Kebayangkan gimana persaan gw waktu itu? Udah tinggal 1 langkah lagi buat pindah jadwal penerbangan, tinggal ngambil duit kiriman dan bayar, eehh...kartu ATM malah lenyap entah kemana. Kalo gw inget-inget lagi kayaknya waktu terakhir ngambil duit, udah gw simpen lagi tu kartu ATM. Jadi kemana gerangan perginya?? Entahlah, gw juga bingung selip dimana tu kartu ATM. Udah gw misscall, gw SMS, gw chat lewat YM, masih nggak ada respon (itu kartu hi-tech banget ya?). Yah...intinya sampai sekarang masih belum diketahui dimana gerangan benda keramat tersebut.
(try this one)

    Nah, kembali ke tank....top!
    Akhirnya gw pasrah banget di situ, bingung harus gimana. Terjebak antara hidup dan mati, emosi dan erosi (?). Tapi memang benar, dalam setiap bencana selalu ada jalan untuk sebuah perbaikan. Kata-kata ini gw dapat dari salah satu game favorit gw; "In the face of disaster lies opportunity for renewal". Ini game lama sih, tapi masih sangat pantas untuk kalian coba (gw aja udah tamat 3x). Judulnya Shin Megami Tensei: Persona 4, khusus untuk konsol PS2.


    Nah, dalam hal ini "renewal" yg gw maksud adalah kakak sepupu gw yg pernah gw singgung dicerita Kambing Kurban. Jadi, kepada beliau ini lah gw mengadu soal kebodohan yg gw buat hari ini. Dan dengan sabarnya, sepupu gw bela-belain dateng ke bandara untuk minjemin duit demi gw. Ooo...so sweet... Melihat sosoknya turun dari Damri khusus bandara itu bagaikan melihat sosok malaikat pencabut nyawa turun dari langit. Lho?! Becanda, maksud gw bagai melihat Spiderman yg datang menolong Mary Jane (Mary Janenya gw gitu?? Hoeekk!!). Lebih-lebih gw malah ditraktir makan sama dia. Waduh, jadi nggak enak banget sama sepupu gw yg satu ini.

    Dan kedatangan sepupu gw ini tampaknya menjadi penutup bagi semua kutukan gw untuk hari itu. Entah karena itu, atau memang para Dewi sudah mulai bosan mengutuk gw. Yah, setidaknya untuk hari itu gw bisa merasa lega karena semuanya sudah terselesaikan dengan cukup baik. Walaupun setelah itu gw harus membatu di bandara sampai selama 8 jam. Dan tidak ketinggalan ceramah 3 hari 3 malam dari kedua ortu gw tercinta. Yg terpenting jangan lupa, isi dompet sama tabungan gw ludes tak bersisa. Huueeeee.... (jelek banget pasti nangisnya)

    Hhh...paling nggak gw bisa pulang lagi ke Palembang dengan jiwa dan raga yg utuh dan gw bisa menjalani hidup gw kayak sekarang ini, kuliah di tempat yg cukup membuat stres tapi untungnya gw dapet kelas yg tingkahnya cukup stres sehingga ibarat rumus matematika; minus kali minus hasilnya plus. Sedikit bocoran nih, gw udah ada rencana mau buat cerita soal kelas "unik" gw ini. So, stay tune ya di blog penuh kutukan kesayangan kita ini; Mix and Mate.

Mertua bijak, menantu anak pajak

--fin

Tuesday, January 17, 2012

Road to BDK Palembang: Final Step (Part I)

Selamat siang pemirsa setia Mix and Mate.
Salam olah kata!

Nah, malam ini kita akan sampai pada bagian akhir dari salah satu kisah paling panjang, paling kolosal, yg ultra funky fantastic, dramatic, romantic, sadistic, erotic, exotic, dan athletic, di blog yg kita cintai (begitu pula dengan adminnya) ini.

Yak! Kolor kain dipake setan; tak lain dan tak bukan (maksa pantunnya), adalah kisah Road to BDK Palembang. Berhubung ini kisah terakhir, gw akan memberikan seluruh tenaga, jiwa, dan raga (maaf, buat harta gw nggak akan dan nggak akan pernah rela) dalam membuat kisah terakhir ini agar semakin membuat kalian menyesal seumur hidup pernah membacanya. Hahahahaa... *ketawa Jin Ifrit

Nah, sekedar info nih; Kan lagi musimnya tuh film-film yg seri terakhirnya dijadiin 2 bagian. Kayak Harry Mutter, sama Tuilet. Jadi kisah yg tidak kalah romantisnya dengan Eduar dan Bellek, juga tidak kalah serunya dengan Heri dan Poldemot ini juga akan di bagi jadi 2 bagian.

Baiklah, tanpa perlu panjang lebar mari kita masuk ke TKP (Tempat Kekacauan Peristiwa):

    Dalam cerita sebelumnya diketahui bahwa gw dengan suksesnya berhasil lolos ke tes tahap terakhir dan dengan bodohnya berhasil meluluh lantakkan jalannya tes ini hanya dengan 1 kata; Geografi. Alhasil hal ini ngebuat gw jadi 99,9% pasrah lillahi ta'ala soal hasilnya nanti.

    Hari itu hari Jum'at, dalam jadwal tes masih ada sekitar 1 minggu lagi sebelum pengumuman finalnya diterbitkan. Malem itu sekitar pukul 00.30 (hitungannya sudah hari Sabtu), gw belum tidur karena suatu kebiasaan yg menurut gw cukup bodoh tapi kerap dilakukan oleh para mahasiswa; numpuk tugas. Jadi berhubung hari Senin itu deadline dan nggak mau weekend gw diganggu dengan alasan apapun baik itu yg bersifat materil, formil, informil, maupun steril(?) walaupun itu hanya sebesar kutil ataupun upil (jorok!), gw kebut ngerjainnya malem ini juga.

    Tapi ditengah-tengah perhelatan super fantastis gw dengan buku, pena, kertas, dan rasa ngantuk yg sudah menginjak stadium akhir, musuh baru mulai menampakkan diri dari balik bayang-bayang malam (lebay). Dan siapa dia? Dia adalah *tirai dibuka; LAPAR.

    Awalnya gw coba nahan, tapi konser di perut gw ternyata semakin menjadi-jadi. Awalnya keroncong yg slow lambat laun jadi classic, lalu berubah ke jazz, dan ujung-ujungnya jadi hard-rock. Akhirnya gw putuskan untuk pergi keluar beli makan.

(Jakarta)
    Jakarta ini ibarat New York-nya Indonesia, nggak pernah tidur. Toko-toko dan tempat makan yg udah tutup jam 10 malam mulai digantikan sama tempat-tempat hang out untuk para penikmat waktu malam (udah kayak narator acara tengah malam ya?) mulai dari tenda-tenda makan, angkringan, sampai diskotik dan bar yg buka sampe sekitar jam 3 dini hari. Lewat dari jam 3, pedagang-pedagang sudah mulai berdatangan ke pasar, angkot-angkot udah pada mulai beroprasi dan para lekong mulai kembali ke markas masing-masing. Diikuti oleh toko-toko, kantor, dan mall yg nantinya akan tutup lagi sekitar jam 10 malam. Begitu seterusnya 'lingkaran setan' ini berputar menjadikan Jakarta selalu dalam mode on.

(gini nih suasana angkringan)
    Jadi nggak susah untuk nyari makan tengah ndalu kayak gini. Dan tempat andalan gw kalo lagi penat ataupun laper tengah malam ada 1; angkringan taman kota di daerah Pramuka. Di sini mulai rame jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Tempatnya lumayan buat nongkrong, makanannya pun beragam.

    Nah, waktu itu gw lagi pengen makan sate sama susu jahe. Setelah gw melakukan penyisiran (kayak Trantip aja), ditemukanlah seonggok warung sate yg gw cari.



Gw: Bang susu jahe sama sate ayamnya 1
Penjual: Yakin bang?
Gw: Yakinlah, gitu aja kok heran

    Dan setelah pesanan disajikan, gw sangat terkejut dengan ekspresi pemain sinetron dan efek zoom dari kamera; Apa?! *jeengg jeeenngg #zoom

    Kenapa gw bisa kaget? Karena jumlah tusuk sate yg ada di piring gw itu sama kayak jumlah tusuk sate yg dipesen sama Suzana ke Bang Bokir (awas, I jangan kepleset jadi E) di film Sundel Bolong. Kontan saja gw langsung protes ke abang penjual satenya (yg ternyata masih keturunan langsung Bang Bokir);

Gw: Bang, banyak banget satenya
Penjual: Lah, tadi abang bilang, pesen sate ayamnya 1. Yaudah, ayam 1 saya jadiin sate semua. Wajar donk jadinya banyak?
Gw: (diam sejuta kata)

    Akhirnya gw kembali ke tempat duduk dalam damai (mati kali). Sambil menyantap sate porsi 'Bang Bokir' itu gw mikir; ini yg bego gw, apa abang yg jual sate ya?? Akhirnya karena semakin njelimet saja permasalahannya, gw putuskan untuk melimpahkan semua kesalahan kepada para pembaca yg percaya bahwa peristiwa "Bang Bokir" tadi benar-benar terjadi. Hehehehee... #piisss

    Tapi tenang, jangan keburu melempar monitor kalian dulu. Soal gw pergi ke angkringan dan beli sate itu emang benar adanya. Nah, jadi kembali ke tank....top!

    Waktu lagi asyik menikmati lezatnya sate ayam dan hangatnya susu jahe, iseng-iseng gw buka akun Facebook dari Hp. Nah, ada notif yg bunyinya; "Angelina Jolie poked you". Wah, resiko artis Hollywood emang gini, sering dicolek sama penggemar (ada gitu artis Hollywood makan sate di angkringan??). Tapi nggak apa-apa, gw emang udah terbiasa jadi orang terkenal. *sombong :tampar

    Ehm! Maaf, lagi-lagi khayalan tingkat tinggi gw kumat.
    Jadi yg bener notifnya kayak gini; "Rizky Ariestiyansyah (temen gw) tag you in a post". Wah, kaget juga gw. Tumben nih anak ngetag nama gw di Facebook. Jangan-jangan dia menyatakan cinta ke gw?! Aduh, gimana nih...gw kan belum siap?!! (najis tralala!)

    Ternyata setelah dibuka, gw kaget 1/2 mateng (telur kali). Ternyata dia ngucapin selamat karena gw udah lulus tes tahap terakhir dan resmi diterima di STAN. Awalnya gw nggak percaya cuy, secara jadwalnya tu pengumuman baru keluar sekitar 1 minggu lagi. Tapi berhubung temen gw ini juga nge-share link-nya, jadi gw coba cek kebenaran kabar kentut (kentut siapa?) tersebut.

    Dan lagi-lagi untuk yg ke-3 kalinya gw kaget lagi (kali ini udah full mateng). Ibarat orang yg punya penyakit jantung, pasti sekarang udah dilarikan ke RS terdekat tepatnya di bagian Kamar Mayat. Ternyata pengumuman itu benar sesuai fakta dan resmi dikeluarkan langsung oleh pihak Kemendut (Kementrian Keduitan).

    Di situ gw senyum-senyum sendiri saking senengnya. Orang-orang di sekeliling gw pada ngeliatin dengan ekspresi heran bercampur takut dan siap-siap lari kalo gw mulai ngamuk. Siaul! Emang gw gila?? *emang. Suara siapa tadi?! #kumat

(Pengen gini sih ke tu anak, tapi gak tega)
    Ah, biarlah! Gw nggak peduli. Gila-gila gini gw anak STAN *sombong #tonjok. Dan akhirnya malam itu gw kembali ke kost dengan senyum nungging di wajah ganteng gw. Para penghuni kost yg masih pada hidup keheranan

"Kenapa pip? Abis nemu duit ya?"
"Ah..nggak kok" gw jawab dengan santai

"Kenapa pip? Abis kenalan sama cewek ya?"
"Ah..nggak juga kok" masih santai

"Kenapa pip? Dapet kiriman ya dari nyokap?"
"Ah..nggak, masih tanggal segini juga" tetep santai

"Kenapa pip? Tampang lu parah banget kalo lagi senyum."
PLAKK!! (sendal gw mendarat di mukanya)

    Tu anak emang paling pinter ngerusak suasana. Tapi nggak untuk kali ini, komentar miring semiring otak gw pun nggak akan bisa ngerusak suasana hati gw yg lagi bahagia kayak Cinderella yg ketemu pangerannya (kok kesannya gw ngondek ya?).

    Tapi ada 1 hal yg agak gw sesalkan waktu itu. Gini nih, hari Seninnya kan gw bakal UTS dan duit bayaran gw masih kurang 1jt lagi. Berhubung Sabtu kampus tutup, jadi pagi tadi gw bayar kurangnya 1jt. Nah, ternyata malemnya pengumuman STAN yg harusnya masih 1 minggu lagi ternyata udah keluar dan gw lulus. Hadeehhh...tau gini nggak gw bayarin dulu tu duit, kan lumayan ditabung (di perut). Tapi nggak apa-apa lah, selalu ada pengorbanan disetiap pilihan yg kita ambil (berat!).

    Besoknya gw langsung pesen tiket untuk pulang (dan kali ini benar-benar pulang) ke Palembang. Tapi sebelum pergi gw sempetin untuk menampakkan sosok keren gw di depan semua fans yg ada di kampus. Dan bener, begitu gw sampe kampus semua fans pada ngerumunin gw dan nangis-nangis karena sebentar lagi gw bakal pergi. Setidaknya begitu yg ada di khayalan gila dalam otak gw. Hehehee.. Yah, kebetulan hari itu juga masih UTS dan mata kuliahnya itu Matematika Keuangan, salah satu favorit gw *sombong :tampar. Jadi itung-itung biar nggak sia-sia uang yg gw setorin sebelumnya, prinsip ekonomi lah. Hehehee...

    H -1 gw tidur nyenyak banget, sebutin temen kalian yg paling nyenyak tidurnya dan gw malem itu tidur 100x lebih nyenyak daripada itu. Saking nyenyaknya, gw kebangun jam 5 dan kalian tau jam berapa jadwal pesawat gw berangkat? 6.30 pemirsa! Perjalanan dari tempat gw ke bandara paling nggak makan waktu 1 jam 30 menit. Dan semua penumpang HARUS, gw ulangi lagi, HARUS check-in 30 menit sebelum jadwal.

    Yah, akhirnya dalam Bus Damri ke bandara gw dag dig dug der setengah mati....
    Am I late? Mau tau kelanjutannya? Ketik REG (spasi) Achip kirim ke nomor gw. SMS yg kalian dapet langsung dari Hp aku lhooo.. Mmuah! (sumpah! Najis! Muntah gw!)

--to be continued