Thursday, November 15, 2012

Little Lessons About Love Ch.2 (end)

Part 4: For That Time, For Now, and Forever

Setelah 3 tahun gue duduk di bangku SMP, akhirnya tahun 2008 gue resmi lulus. Gue dan doi sama-sama keterima di SMAN 03 Palembang lewat jalur PMDK. Gue sendiri sebelumnya sempat ikut tes USM di SMAN (plus) 17 Palembang, tapi gak keterima. Hehehe.. Dasar emang jodoh, lagi-lagi gue 1 sekolah sama doi. Tapi gue yakin pasti nyesel deh gak nerima seorang M. Rafif Anwar yang cool dan kece ini waktu itu *kantong muntah please*.

Kalau dulu gue dan Eyi satu sekolah dan satu kelas di SMP, kali ini walaupun tetap satu SMA tapi kelas kami terpisah mulai dari tahun pertama sampai tahun terakhir. By the way, "Eyi" itu panggilan bekennya doi. Dicetuskan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan dipopulerkan oleh gue sendiri.

Walaupun kami terpisah kelas, tapi lagi-lagi ada saja suatu hal yang bikin gue dan Eyi sama-sama lagi. Kami, entah secara kebetulan atau tidak, berada di satu organisasi yang sama. Sebuah organisasi yang cukup sibuk semasa kami menjabat. Berkat itu, kami jadi sering ketemu walaupun gak satu kelas lagi.

Sekitar awal tahun ke-2, hubungan gue sama Eyi sempat berhenti. Iya, kami putus karena suatu hal. Yah, gue akui itu karena salah gue sih. Well, gue gak mau terlalu ngebahas hal itu tapi yang jelas kami sempat putus dalam waktu yang cukup lama. Sampai sekitar akhir tahun ke-2 gue di SMA itu, kami jadian lagi. Gak mudah memang membangun lagi apa yang sebelumnya sempat rusak. Masih ada konflik di sana-sini, internal dan bahkan eksternal. Yah, secara gue emang famous *hiyaat!* *dziingg!*.

Tapi pada akhirnya semua kembali tentram seperti sediakala. Seorang Rafif dan Leliana kembali lagi dengan pemikiran yang lebih dewasa dan komitmen yang lebih kuat dari sebelumnya. Dengan begitu, kami siap mengahadapi masalah yang lebih sulit lagi kedepannya dan tetap bersama sampai tiba pada waktunya kami siap untuk benar-benar mengikat hubungan ini untuk selamanya.

------------------

Well, itu tadi secuil kisah cinta gue dengan sang pujaan hati. Kalau dicerita tadi kelihatannya kami selalu dekat dan gak pernah berjauhan dalam arti yang sebenarnya, tapi begitu lulus bangku SMA kami memulai sebuah tantangan baru dalam hubungan kami. Sebuah hal yang sebelumnya gak pernah kami lalui. Yap, LDR a.k.a. Long Distance Relationship, hubungan jarak jauh.

Gak mudah memang pada awalnya, apalagi mengingat sebelumnya hampir tidak ada masalah bagi kami untuk sekedar bertemu setiap harinya. Ternyata banyak hal sulit yang harus kami hadapi selama LDR ini. Mulai dari masalah komunikasi sampai masalah kepercayaan. Tapi manusia memang dianugerahi kemampuan untuk menjadi lebih baik seiring dengan berlalunya masalah. Begitu juga dengan kami, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan banyaknya masalah yang terselesaikan, lagi-lagi kami belajar untuk jadi lebih baik. Belajar untuk lebih saling mengerti, belajar untuk lebih percaya, dan belajar untuk lebih menghargai satu sama lain.

Gue percaya, Tuhan pasti punya maksud mulia dengan membuat gue dan Eyi terpisah jarak. Kami sudah cukup lama didekatkan, bahkan sebelum kami saling mengenal. Ingat saat ujian masuk bangku SMP? Peringkat kami bersebelahan, nama kami disandingkan. Saat tahun pertama di SMP, kelas kami juga bersebelahan. Bahkan tahun-tahun berikutnya kami disatukan di satu kelas. Saat masuk SMA, Tuhan bisa saja menjauhkan kami dengan meluluskan gue di SMAN (plus) 17, tapi lagi-lagi Dia ingin kami tetap bersama di SMAN 03. Saat kelas kami terpisah, hati kami digerakkan untuk bergabung di organisasi yang sama agar kami sering bertemu. Saat hubungan kami sempat berakhir, Tuhan satukan kami lagi dengan caraNya yang luar biasa yang membuat hubungan kami semakin kuat. Dan bahkan Tuhan memberikan kami kesempatan untuk bersama selama beberapa bulan dengan menggerakkan hati gue untuk melanjutkan kuliah di Jakarta, sebelum akhirnya Dia memutuskan untuk menjauhkan kami dengan menarik gue kembali ke kota Palembang.

Tuhan bisa saja menempatkan gue di Jakarta, dengan cara membuat hati gue untuk memilih lokasi tes USM di Jakarta daripada di Palembang. Namun lagi-lagi, Dia berkehendak lain. Tapi seperti yang gue bilang tadi, gue yakin ada rencanaNya yang menakjubkan di balik semua ini. Well, semua akan menjadi indah pada waktunya.

Fin

Little Lessons About Love Ch.1

This is special post about my extraordinary love story with my wonderful girl, Leliana Anggraini... .
Dan cerita ini gue persembahkan khusus buat dia sebagai salah satu hadiah di hari ulang tahunnya.

Part 1: First Meet

Satu nama yang menarik perhatian gue saat ngeliat hasil pengumuman seleksi masuk SMPN 19 Palembang untuk yang pertama kali adalah nama yang tepat ada di atas nama seorang M. Rafif Anwar. Satu-satunya nama seorang cewek yang ada di 5 nama teratas di antara 4 nama cowok lainnya, yang saat itu juga buat gue bilang WOW sambil koprol dan rolling in the deep. Yap, di peringkat 3 itu tertulis sebuah nama yang bahkan (pada saat itu) sama sekali gak gue kenal; Leliana Anggraini.

Gue dari SD emang selalu kagum sama cewek yang punya otak encer, tapi sejauh itu hanya sebatas kagum. Gue masih kecil, jangankan untuk pacaran, untuk punya TTM aja gak pernah kepikiran. Tau kan TTM? Waktu gue SD lagi ngetrend banget tu istilah TTM alias Teman Tapi Mesra. Sebelas-dua belas lah sama TTS, Teman Tapi Sesra. Jadi seorang Rafif waktu pertama kali duduk di bangku SMP itu hanya tau dengan yang namanya buku. Sampai...

Pagi itu gue piket kelas, dan kebagian bersih-bersih halaman depan kelas. Waktu lagi asik-asiknya nyapu pakai sapu lidi (kebayang gak nyapu halaman dengan wajah bahagia?), perhatian gue teralihkan ke halaman kelas sebelah kelas gue *tsaah..*. Seorang cewek dengan anggunnya menyapu halaman kelas 7.3 (nah gimana lagi tu nyapu halaman dengan anggun?). Tapi serius, perhatian gue beneran tersita ke cewek itu untuk beberapa menit. Dan itu terulang untuk minggu-minggu kedepannya. Entahlah, gue juga bingung kenapa tapi memang ada sesuatu yang bikin gue betah ngeliat wajah doi. Tapi yang jelas bukan sesuatunya Syahrini karena waktu itu si Jambul Katulistiwa belum eksis.

Dan saat gue tau bahwa nama cewek itu adalah Leliana Anggraini yang sebelumnya sukses bikin gue bilang WOW, keinginan untuk sekedar ngeliat wajah dia itu jadi semakin parah. Gue ingat kelas kami itu tetangga, doi 7.3 gue 7.2, dan doi duduknya itu pas di samping jendela dekat koridor. Jadi kalau mau ke toilet atau kalau kelas gue istirahat duluan, gue pasti ngelewatin tuh kelas 7.3. Ya beberapa kali gue curi-curi pandang lah ke doi. Hehehee... Ya tapi lagi-lagi itu hanya sebatas rasa kagum.

Beberapa minggu sebelum tahun ke-2 gue di SMPN 19 Palembang, gue lagi-lagi dibuat kagum sama cewek yang namanya Leliana ini. Doi juara 1 umum waktu kenaikan kelas! Iya, kali ini juga gue bilang WOW.. tapi gak sambil koprol atau rolling in the deep karena lagi upacara itu cuy.

Dan saat gue duduk di bangku kelas dua, sebuah kenyataan bikin gue berasa abis minum kopi Good Day, nama Leliana Anggraini tercantum di kelas yang sama dengan nama gue berada. Kelas 8.1, sebuah kelas yang sederhana dan meniru gaya hidup manusia purba yang nomaden, tapi gak akan pernah gue lupa sampai kapanpun kecuali gue kena anemia (amnesia!), karena di kelas itu lah seorang M. Rafif Anwar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari seorang Leliana Anggraini.

Part 2: January, 13th 2007

Sebuah kebahagiaan tersendiri memang buat gue bisa ada di kelas yang sama dengan orang yang gue kagumi. Di kelas 8.1 ini gue cukup dekat sama cewek yang (dulu) akrab dipanggil Leli ini. Kebetulan tempat duduk kami juga cukup berdekatan. Jadi kalau cuma sekedar ngobrol akrab, sms-an, ketawa bareng, ledek-ledekkan, lempar-lemparan batu, tonjok-tonjokkan, atau bunuh-membunuh, sudah biasa (serem amat). Dan bohong kalau gue bilang gak ada perasaan suka yang timbul dari kedekatan kami itu.

Siang harinya sebelum malam tahun baru 2007, adalah hari bersejarah buat gue. Untuk pertama kalinya gue tau gimana rasanya nge-date sama cewek yang kita suka. Iya, siang itu adalah first date gue. First dalam hidup gue dan first dengan seorang Leliana Anggraini. Sepatu, kemeja lengan pendek, jaket, topi dan sebuah tas ransel adalah benda-benda yang melekat di tubuh gue waktu itu. Iya, kombinasi yang aneh memang. Sampai sekarang gue masih suka merinding ngebayangin penampilan gue waktu itu.

Tapi walaupun penampilan gue udah kayak manusia tahun 70an yang nyasar dengan mesin waktu, hari itu sangat berkesan buat gue. Untuk pertama kalinya gue tahu gimana rasanya nonton berdua sama orang yang kita suka. Sensasi deg-degannya itu lho.. menggigit! Dan disambung lagi dengan acara malam tahun baru bareng teman-teman gue (dan doi juga ada tentunya), menambah lengkap kebahagiaan gue hari itu. Ibaratnya hari itu gue matipun rasanya gak akan nyesel. Elee.. hahaha... .

13 Januari 2007 sekitar pukul 19.00 WIB gak ada yang spesial buat gue. Kalaupun ada yang beda, paling-paling hanya ada 3 hal: pertama, malam itu hujan cukup deras, kedua malam itu gue lagi ada di salah satu mall di kota Palembang sama teman akrab gue, dan yang ketiga gue merasa lebih ganteng malam itu (fiktif!). Mungkin kalian berpikir bahwa teman gue itu tak lain dan tak bukan adalah cewek yang selama ini gue kagumi, cewek yang namanya sudah sangat sering gue sebut di posting ini; Leli. Tapi maaf, Anda kurang beruntung, gosok terus. Teman gue itu cowok, Endy namanya. Mungkin kalian (lagi-lagi) berpikir bahwa karena suatu hal perasaan ke Leliana Anggraini hilang dan gue mulai suka sesama jenis. Jika itu yang ada dalam pikiran kalian, maka kalian semua benar (lho?!). Hehehe.. Just kidding. Sampai malam itu, rasa kagum dan suka gue ke Leli belum hilang sedikitpun.

Gue dari dulu selalu yakin bahwa hati dan perasaan manusia itu akan lebih "sensitif" saat hujan turun. Coba kalian buktikan sendiri. Saat hujan turun apa yang dirasakan oleh hati kita saat itu, entah itu rasa sayang atau rasa benci, akan menjadi lebih menggigit (?). Mungkin itulah kenapa cukup banyak puisi yang memasukkan kata hujan di dalamnya. Bisa saja pada kenyataannya puisi itu benar-benar dibuat saat hujan turun.

Begitu juga dengan gue malam itu. Entah karena 'dorongan' dari hujan yang turun cukup deras atau memang hati kecil gue yang mengatakan bahwa malam itu lah saat yang tepat, malam itu gue bulatkan tekad dan kuatkan iman dan taqwa untuk menyatakan cinta gue ke seorang cewek yang sudah cukup lama gue kagumi; Leliana Anggraini.

Part 3: Learning Process

Kalau kalian tanya gimana cara gue nembak doi, gak ada yang spesial. Bahkan menurut gue kurang gentleman. Bukan, bukan lewat telepon, tapi lebih hina lagi. Iya, lewat SMS! Saat itu gue masih seorang Rafif yang super pemalu, yang bahkan gak bisa ngeliat mata orang dalam waktu lama. So what?! Itu masa lalu, jadi bukan masalah buat gue.. masalah buat loe?! Hehehe.. Jadi apa gue diterima? Pastinya, kalau gak posting ini gak akan pernah ada.

Banyak hal yang gue alami dalam hubungan gue dengan seorang Leliana selama duduk di bangku SMP ini. Mulai dari coklat valentine yang dimakan semut, kado ulang tahun yang gak jadi surprise karena udah keburu ketahuan, sampai kena tilang bareng gara-gara wajah gue yang terlalu imut. Semua itu bikin perasaan gue yang dulunya sekedar suka. tumbuh jadi perasaan cinta.

Satu setengah tahun gue jadian, banyak hal yang gue pelajari tentang yang namanya cinta dan kasih sayang. Tentang bagaimana berkorban untuk orang yang kita sayang, tentang bagaimana menyayangi tanpa mengekang, tentang bagaimana mengerti dan memahami, dan semua hal yang gue yakin gak akan ada di kurikulum sekolah manapun (ada gitu pelajaran Cinta dan Kasih Sayang Cup Cup Muah Muah?). Sebuah pelajaran kecil tentang cinta.